Laut

Efek dan Bahaya Perubahan Tekanan pada Tubuh

Scuba diving merupakan olaraga yang sangat menyenangkan, tapi taukah teman-teman jika tidak dilakukan dengan benar dan  tanpa memikili pengetahuan yang cukup. Scuba Diving  akan sangat membahayakan diri para penyelam karena adanya perbedaan tekanan antara di daratan dan di kedalaman air.  Penyelam yang menyelam ke dalam akan mengalami efek langsung tekanan air. Untuk itu diperlukan equalisasi yaitu penyesuaian tekanan.

Efek Langsung Tekanan

Pada tubuh manusia terdapat rongga-rongga udara dan apabila untuk menyelam akan mengalami tekanan langsung yang dapat berpengaruh terhadap rongga-rongga tersebut. Rongga tersebut yaitu kulit (jika memakai dry suit), lubang telinga dan telinga tengah, sinus, gigi, paru-paru, dan saluran pencernaan.

Ketidakseimbangan tersebut akan menyebabkan barotrauma yang dapat berupa squeeze, kerusakan organ, atau minimal menimbulkan rasa sakit dan rasa tidak nyaman. Squeeze adalah pengerutan jaringan tubuh akibat dari tidak dapatnya jaringan tubuh menyamakan tekanan atau equalisasi.

Mask Squeeze

Terjadi pada saat penyelam lupa mengeluarkan udara ke dalam masker pada saat equalisasi sehingga terbentuk tekanan negatif pada ruangan masker. Hal ini mengakibatkan kapiler darah di muka rusak dan menyebabkan pendarahan ke dalam kulit (ecchymosis) dan pendarahan konjungtiva.

Squeeze Lubang Telinga

Terjadi karena adanya udara yang terperangkap di dalam lubang telinga. Udara tersebut dapat terperangkap karena:

  • Serumen (kotoran telinga).
  • Earplug (tidak boleh dipakai dalam penyelaman)
  • Hood atau penutup kepala.
  • Wet suit/dry suit yang menutup telinga.

Hal ini menyebabkan terbentuknya ruang bertekanan negatif sehingga dapat menyebabkan hal yang sama. Gejala meliputi sakit pada telinga, pembengkakan, kemerahan kulit lubang telinga. Pada kasus yang parah dapat terjadi robek gendang telinga.

Squeeze Sinus (Barosinusitis)

Mekanismenya sama dengan squeeze lain. Jika pada saat turun ke dalam. Jika terdapat sumbatan pada saluran sinus akan menyebabkan sinus squueze. Sumbatan ini disebabkan oleh:

  • Sinusitis (infeksi/alergi) dimana pembengkakan jaringan menyebabkan penyumbatan saluran ke hidung.
  • Rhinitis (hay fever), prosesnya sama dengan sinusitis.
  • Polip, yaitu pertumbuhan jaringan kecil yang dapat menutupi saluran sinus. Polip terdapat pada rongga hidung.
  • Lipatan jaringan yang berlebihan.
  • Sumbatan oleh lendir yang mengering.

Gejalanya yaitu rasa sakit di wajah, kening, atau pipi selama menyelam.

Tipe yang jarang yaitu reverse sinus squeeze yang terjadi pada saat naik ke permukaan. Kondisi ini diakibatkan karena tingginya tekanan udara dalam sinus. Ini biasanya terjadi pada penyelam yang mengalami infeksi saluran pernapasan atas atau alergi berat yang minum obat dekongestan (mengurangi produksi cairan) sesaat sebelum menyelam, tetapi efek obat tersebut hilang setelah menyelam di kedalaman.

Pencegahan barosinusitis atau squeeze sinus yaitu dengan tidak menyelam pada saat terkena infeksi saluran napas atas atau hal-hal lain yang dapat mengakibatkan penutupan saluran sinus.

Squeeze Gigi (Barodontalgia)

Nama lainnya yaitu aerodontalgia. Kondisi ini disebabkan karena adanya gas yang terperangkap di dalam gigi atau struktur sekitar gigi. Adanya gas akan mengakibatkan terbentuknya tekanan negatif atau positif di dalam ruangan yang terbatas. Hal ini akan merangsang struktur sensitif gigi danmengakibatkan rasa sakit. Barodontalgia dapt disebabkan oleh kondisi sebgai berikut.

  • Karies (karang gigi).
  • Restorasi gigi (penambalan gigi).
  • Luka di daerah mulut.
  • Cabut gigi (belum lama).
  • Abses periodontal (kumpulan nanah dekat jaringan gigi).
  • Terapi pada akar gigi.

Jika terdapat sekumpulan udara tertangkap di gigi pada tekanan permukaan laut, tekanan di luar gigi akan meningkat pada penyelaman, maka gigi akan pecah ke arah dalam, dan ruangnya akan terisi darah.

Kebalikannya, jika kumpulan udara terbentuk selama di kedalaman, jika bergerak ke permukaan volumenya akan meningkat sesuai hukum Boyle yang mengakibatkan gigi pecah ke arah luar.Untuk mencegah barodontalgia, setiap penyelam harus menunda penyelaman sedikitnya 24 jam setelah terapi/tindakan pada gigi.

Squeeze Telinga Tengah (Barotitis Media)

Tingkat kejadian squeeze telinga tengah sangat tinggi sekitar 40 % dialami oleh para penyelam.Hal ini terjadi jika terdapat sumbatan yang menghalangi equalisasi rongga di telinga tengah yang disebabkan oleh tersumbatnya saluran tuba eustachius.Tersumbatnya saluran tuba eustachius dapat disebabkan oleh:

  • Infeksi saluran napas atas.
  • Allergi.
  • Rokok.
  • Polip.
  • Trauma wajah yang dialami sebelumnya.

Dapat juga terjadi jika penyelam lupa melakukan equalisasi dengan cara Manuver Valsava dan Frenzel.

  • Manuver Valsalva yaitu meniup udara melawan dengan bibir dan hidung tertutup dan lidah ke arah belakang untuk meningkatkan tekanan rongga faring yang diteruskan ke dalam telinga tengah melalu tuba eustachius. Manuver ini juga dapat membuka tuba eustachius yang tertutup. Biasa disebut mengedan.
  • Manuver Frenzel yaitu dengan menelan dengan lidah ke belakang dimana bibir ditutup dan lubang hidung di tekan (memencet hidung).

Biasanya penyelam sudah mengalami sedikit rasa sakit pada perbedaan tekanan 60 mmHg. Manuver ini baik dilakukan pada kedalaman 4 feet. Jika penyelam tidak melakukan equalisasi dengan manuver ini pada perbedaan tekanan lebih dari 100-400 mmHg (4,3-17,4 feet) maka akan terjadi squeeze yang dapat mengakibatkan robek gendang telinga. Air dingin kemudian masuk ke telinga tengah dan menyebabkan vertigo.

Gejalanya terjadi sesaat penyelam turun dari permukaan air. Penyelam juga mengeluh rasa sakit dan rasa penuh dalam telinga atau mengalami vertigo. Sakitnya semakin parah sehingga penyelam dapat meneruskan atau menghentikan penyelaman.Pencegahannya dengan selalu equalisasi setiap turun ke kedalaman.

Barotrauma Telinga Dalam

Merupakan barotrauma yang sangat serius karena akan menyebabkan ketulian permanen. Barotaruma ini jarang terjadi. Trauma ini terjadi karena perbedaan tekanan yang bermakna antara telinga tengah dan telinga dalam. Hal ini disebabkan terlalu kuatnya manuver Valsava atau turun ke dalam terlalu cepat. Gejalanya utama yaitu berdenging, vertigo, dan tuli. Dapat juga disertai rasa penuh pada telinga, mual dan muntah, berkeringat, dan pucat. Gejala ini bisa timbul segera setelah trauma atau dapat berkembang dalam 1 jam, tergantung aktivitas penyelam selama dan sesudah penyelaman.

Alternobaric Vertigo

Merupakan barotaruma yang sangat jarang. Terjadi pada saat naik ke permukaan yang disebabkan karena perubahan tekanan tiba-tiba pada telinga tengah yang menyebabkan perangsangan ke telinga dalam dan menyebabkan vertigo. Vertigo ini hanya sebentar dan tidak memerlukan penanganan dapat membuat penyelam panik, yang dapat mengakibatkan tenggelam, kerusakan paru, atau emboli udara, atau trauma lain yang sangat serius. Gejalanya yaitu kehilangan orientasi terhadap sekeliling dan tiba-tiba mual sekali. Pencegahannya yaitu:

  • Jangan memaksakan diri bilamana rasa sakit menetap.
  • Jangan melakukan penyelaman terlalu dalam dan hentikan penyelaman.
  • Jangan menyelam sewaktu kepala sakit/pusing.

Bila mengalami hal ini berhenti atau berpegang pada sesuatu sampai perasaan itu hilang. Jangan muncul kepermukaan selama masih ada reaksi dan bernapas dengan wajar.

Aerogastralgia (Gastrointestinal Barotrauma)

Hal ini sering terjadi pada penyelam yang masih baru. Karena saluran pencernaan lunak, adanya gas di dalam usus selama turun ke dalam tidak menyebabkan barotaruma. Tetapi adanya pengumpulan gas selama di kedalaman akan menyebabkan barotrauma pada saat naik. Hal yang mengakibatkannya yaitu:

  • Manuver Valsava yang berlebihan, atau yang berulang-ulang terutama pada posisi kepala di bawah yang mengakibatkan udara terdorong ke lambung.
  • Mengunyah permen karet selama penyelaman.
  • Memakan banyak ubi-ubian atau minum minuman berkarbonasi sesaat sebelum menyelam.

Gejalanya yaitu rasa penuh pada perut, sakit pada perut, sering bersendawa, atau buang angin. Hal yang serius jika terjadi perangsangan saraf yang menyebabkan jantung lemah berkontraksi dan penekanan pada vena oleh usus, tapi hal ini jarang.

Squeeze Kulit

Squeeze kulit jarang terjadi. Jika pada area kulit penyelam ada kumpulan udara yang terperangkap pada lipatan/lekukan dry suit. Selama penyelaman tekanan negatif terjadi pada area tersebut, sehingga menyebabkan pembuluh darah kapiler kulit pecah dan darah keluar mengisi ruang tekanan negatif. Kulit berwarna kemerahan. Tidak memerlukan perawatan dan sembuh dalam beberapa hari/minggu.

Pengaruh Tekanan Sewaktu Muncul ke Permukaan

Pengembangan Paru Melewati Batas, Pulmonary Barotrauma of Ascent (Pulmonary OverPressurization Syndrome) atau POPS

Pengembangan melewati batas pada paru-paru dapat terjadi pada penyelam yang menyelam yang melewati tekanan lebih, dengan menahan napas tiba-tiba muncul di permukaan yang lebih rendah, yang akan memecahkan alveoli (ingat hukum Boyle). Gelembung akibat pecahnya alveoli bergerak ke bagian tubuh lain dan gejalanya tergantung dari lokasi dan volume udara yang masuk. Manifestasinya yaitu:

  • Mediastinal emphysema
  • Subcutaneous emphysema
  • Pneumothorax
  • Emboli udara

Biasanya penyelam melakukan hal ini karena kehabisan udara, panik, mengalami bouyancy positif secara tiba-tiba seperti melepas sabuk pemberat atau inflasi BC secara cepat. Hal ini mengingatkan penyelam untuk bernapas secara wajar dan tidak boleh menahan napas saat muncul ke permukaan dan ini berlaku untuk penyelam yang memakai peralatan scuba.

Mediastinal Ephysema

Manifestasi pengembangan paru yang melewati batas yang paling sering yaitu mediastinal emphysema. Gelembung dari paru-paru yang pecah, masuk ke rongga antara paru-paru di dekat jantung dan tenggorokan. Gejalanya yaitu sakit di daerah dada karena udara menekan jantung, sesak napas, atau sakit pada saat makan. Dapat pula pingsan. Penanganannya yaitu konservatif, meliputi istirahat, pemberian oksigen, sedangkan rekompressi dilakukan jika sangat parah. Hindari penerbangan selama fase penyembuhan.

Subcutaneus Emphysema

Dari daerah mediastinum gelembung-gelembung udara bergerak naik ke daerah leher, di bawah kulit di sekitar leher, kalau dipegang maka kulit terasa pecah. Gejalanya yaitu sakit dan sulit bernapas pada bagian yang terkena, napas pendek dan cepat, udara dapat menekan jantung dan pembuluh darah menyebabkan kebiruan. Penanganan sama dengan diatas. Udara dibung dengan memasukkan jarum dibawah pengawasan ahli.

Pneumothorax

Jarang sekali terjadi, jika terjadi berarti paru-paru pecah, seperti meletus dan gelembung udara langsung memenuhi rongga udara antara paru-paru dan selaput paru (pleura). Gejalanya yaitu sakit dada, karena udara menekan paru-paru yang terkena. Dalam kasus yang parah dapat terjadi tension pneumothorax, yaitu pneumothorax yang sangat besar dan membuat paru-paru yang terkena kolaps karena tekanan yang tinggi. Ini merupakan keadaan darurat.

Gejalanya yaitu sakit dada yang berat, pengembangan dada tidak sama yaitu paru yang terkena agak tertinggal, dan adanya penekanan ke trakea menjadi tidak lurus. Biasanya terjadi penekanan jantung sehingga cepat pingsan. Penangan yaitu sama dengan emboli udara. Tetapi sebelum dilakukan rekompressi maka udara yang ada di rongga dada harus dikeluarkan dengan memasukkan jarum oleh atau dengan pengawasan ahli.

Emboli Udara

Adalah pecahnya dinding alveoli yang menyebabkan udara masuk dalam peredaran darah, akibatnya terjadi penyumbatan peredaran darah oleh gelembung-gelembung udara langsung dari paru-paru. Misalnya, jika penyelam naik ke permukaan dari 100 FSW, udara dalam paru mengembang 4 kali volume awal. Jika tidak dikeluarkan, maka menekan paru dan alveoli pecah bersaamaan dengan pecahnya pembuluh darah. Udara terbawa ke kapiler paru dan dibawa ke ventrikel kiri, kemudian di pompa kesuluruh tubuh lewat arteri. Adanya kumpulan udara dalam arteri akan membentuk sumbatan sehingga jaringan kekurangan oksigen. Jika otak mengalami hal tersebut maka akan berakibat kematian.

Gejalanya yaitu lemas, pusing, kelumpuhan/ kelemahan yang hebat, gangguan penglihatan, nyeri dada, kejang-kejang dan pingsan, terkadang disertai busa bercampur darah di mulut.
Penanganannya adalah sebagai berikut.

  • Tempatkan korban dengan posisi kepala dibawah, miring 15o pada bagian kiri badannya.
  • Gunakan oksigen, bila tersedia. Hal ini membantu mengecilkan gelembung-gelembung udara dan memberikan suplai oksigen ke otak.
  • Masukkan ke ruangan rekompressi jika tersedia, hal ini untuk mengurangi besarnya gelembung-gelembung sehingga melancarkan peredaran darah ke otak.

Pencegahan emboli udara yaitu penyelam harus bernapas secara wajar saat memakai peralatan scuba dan tidak menahan napas saat muncul ke permukaan, keluarkan napas secara terus menerus. Napas harus dikeluarkan minimal 10 feet terakhir dari permukaan.

Efek Tidak Langsung Tekanan

Oxygen Toxicity (Keracunan Okisgen)

Oksigen merupakan gas yang dibutuhkan tubuh untuk metabolisme. Oksigen yang dihirup adalah 1/5 dari semua oksigen yang ada. Bila campuran gas yang dihirup terdiri dari O2 20 % maka oksigen yang terpakai oleh tubuh adalah hanya 4 % nya sedangkan 16 % dihembuskan.

Meskipun dibutuhkan oleh tubuh, peningkatan tekanan parsial oksigen menyebabkan keracunan. Sesuai dengan hukum Dalton, tekanan yang tinggi pada penyelaman meningkatkan tekanan parsial oksigen.

Pada kedalaman 40 m (5 ATA), maka penyelam akan menghirup tekanan O2 1 ATA atau O2 100 % seperti menghirup udara murni di permukaan. Oksigen yang tinggi menyebabkan terlalu cepatnya proses metabolisme, merusak protein tubuh dan syaraf. Hal dapat terjadi pada penyelam yang menggunakan Nitrox.

Manifestasi gejala pada pernapasan yaitu batuk dan rasa sakit saat bernapas, pada sistem saraf pusat gejalanya yaitu pelintiran pada otot muka sekitar bibir, gangguan penglihatan, mual, banyak berkeringat dan kejang. Apabila terjadi di air maka berakibat fatal.

Penanganannya dengan diberikan udara segar, jangan oksigen murni. Oleh karena itu jangan menyelam terlalu dalam dan gunakan udara biasa yang bersih bukan O2 murni.

Narcose (Pembiusan oleh Nitrogen)

Merupakan bagian terbesar dari udara yang dihirup oleh manusia. Di permukaan nitrogen merupakan gas lambat (inert gas) dan secara kimia tidak bercampur dalam darah.

Nitrogen melarutkan oksigen dalam campuran udara dan menjadikan udara aman untuk bernapas. Nitrogen diserap dan disimpan dalam tubuh karena inert. Maka dengan inilah alasan utama mengapa penyelam scuba bila muncul ke permukaan harus perlahan.

Sesuai dengan hukum Dalton, tekanan parsial oksigen meningkat saat menyelam. Nitrogen memiliki efek euforia (suasana senang berlebihan) yang meningkatkan kepercayaan diri, dan mengurangi kognisi dan penilaian situasi sehingga menyebabkan teknik menyelam kacau yang bisa fatal bagi penyelam. Biasanya terjadi mulai kedalaman 70- 100 feet tapi setelah kedalaman 100 feet semua penyelam akan mengalami keracunan.

Pada penyelam scuba, gejalanya berupa kepala terasa ringan, euforia, perasaan gamang, dan kelainan sensorik. Gejala memburuk jika semakin dalam. Pada kedalaman 100 FSW, penyelam semakin keracunan, dengan gejala berkurangnya penilaian, rasa percaya diri meningkat, dan reflek yang menurun. Pada kedalaman 250-300 FSW, terdapat halusinasi lihat dan dengar dan pandangan gelap. Penyelam akan tidak sadar pada kedalaman 400 FSW. Hal ini sering disamakan dengan minum Martini (minuman alkohol).

Oleh karena itu penyelam scuba dengan udara kompresi tidak boleh menyelam lebih dari 100 FSW. Jika ingin menyelam lebih dalam gunakan Heliox. Jika terjadi gejala diatas pada kedalaman 70-100 FSW naiklah ke permukaan dan istirahat atau ke kedalaman lebih dangkal sampai gejala menghilang. Hindari menyelam terlalu dalam dan kenalilah kemampuan diri dan pelajari gejala-gejala tersebut.

Narcose (Pembiusan oleh Nitrogen)

Merupakan gas buang tubuh manusia. Jika menyelam dengan menahan napas (skin diving) maka kadar CO2 di tubuh akan menumpuk. Bila penumpukan tersebut mencapai kadar 4 % maka penyelam harus menghembuskan napas. Bila penyelam skin menahan napas dapat keracunan CO2 (hiperkapnea).

Pada penyelam scuba hal ini dapat terjadi, misalnya karena malfungsi regulator. Pada penyelam closed circuit , kegagalan absorpsi CO2 oleh absorber dapat menyebabkan keracunan.

Pada permukaan konsentrasi dengan CO2 5-6 % mengakibatkan sesak napas, napas cepat, dan pusing. Pada kadar 10 %, tekanan darah turun menyebabkan pingsan. Bila kadar 12-14 % terjadi depresi pernapasan dan saraf pusat yang mengakibatkan kematian. Keracunan CO2 kerentanan terhadap narkosis nitrogen, keracunan oksigen dan penyakit dekompresi karena menyebabkan pelebaran pori pembuluh darah.

Gejalanya yaitu konsentrasi berkurang, kontrol otot menurun dan fungsi motorik terganggu serta kelelahan lalu pingsan. Penanganan dengan cara memberikan udara yang segar, dan bila ada O2 murni. Untuk menghindari bernapaslah secara wajar, hindari suplai udara yang tidak bersih serta peralatan yang tidak baik.

Penyakit Dekompresi (Decompression Sickness)

Berbeda dengan emboli udara, Decompression sickness terjadi dimana terbentuknya gelembung udara di dalam darah tanpa mengalami pecahnya alveoli paru.

Gejalanya lambat dibanding emboli, karena gas ini terbentuk di pembuluh darah yang menyebabkan matinya sel-sel di jaringan secara perlahan.

Pencegahannnya: Menyelam menggunakan tabel dekompressi . Angkatan Laut dan penyelam komersil seluruh dunia telah membuat tabel selam berdasarkan kalkulasi. Oleh karena itu setiap penyelam harus bisa membac tabel selam. Yang dipakai umumnya adalah U.S. Navy Standard Air Decompression Tables.

Tags
Show More

Reno

Traveler, Backpacker, Animation Lover, Animal's Lovers, Pluviophile, Nyctophilia,

Related Articles

31 Comments

  1. “Scuba diving merupakan olaraga yang sangat menyenangkan, tapi taukah teman-teman jika tidak dilakukan dengan benar dan tanpa memikili pengetahuan yang cukup.”
    Kalimat ini kok terputus begitu saya ya, Kak? Mungkin maksudnya adalah “Scuba diving merupakan olaraga yang sangat menyenangkan, tapi taukah teman-teman jika tidak dilakukan dengan benar dan tanpa memikili pengetahuan yang cukup, scuba diving akan sangat membayakan diri para penyelam karena adanya perbedaan tekanan pada kedalaman air dengan (mohon dijabarkan.)”

  2. Ulasannya sangat lengkap, kak..
    Aku pernah dengar cerita ada penyelam yg meninggal karena baru saja muncul ke permukaan lalu menyelam lagi. Jadi tubuhnya seperti shock gitu..

  3. Wah ternyata memang berbahaya kalau tidak tahu ilmunya, jadi kegum sama penyelam-penyelam yang bisa menyelam sampai kedalaman berpuluh-puluh meter, ternyata memang tidak mudah, nice artikel

  4. Lengkap banget infonya. Ternyata kalo setelah terapi/tindakan gigi minimal 24 jam setelahnya baru bisa menyelam.

    Yang paling sering saya alami kalo berada di pesawat yaitu telinga menjadi agak “bumpet”. Mungkin ini karena perbedaan tekanan udara,

  5. Setiap baca blog Kak Eno ada saja informasi penting kesehatan yang selama ini luput dari perhatian. Aku belum pernah diving sih, paling snorlelingan aja, harus sertifikasi dulu deh kayanya. Btw, Mba Eno kapan2 jadi narsum QT di Kubbu yaa

  6. Terimakasih Kak Reno untuk informasi detail mengenai scuba diving, dalam hal ini ‘perubahan tekanan’.
    Sepertinya asik nih kalau Kak Reno bawakan tema ini sebagai QT di Kubbu,

  7. Scuba diving itu kelihatannya seru-seru aja. Tapi ternyata banyak resiko mengintai. Pantes aja kursus dan lisensinya mahal. Butuh latihan dan keterampilan yg bener-bener nih sebelum melihat keindahan bawah laut.
    Trims sudah berbagi informasi yang bermanfaat ini. 😂

  8. Bagus dan saya suka pemaparannya secara detail tetapi membuat saya semakin phobia yang namanya renang dan dunia selam hehe.

  9. Wahhhh ternyata dibalik kenikmatan diving banyak hal yang harus diperhatikan. Saya pernah nih kecepatan tenggelam langsung kepala sakit, dan paru-paru seakan menyempit ternyata ini penjelasannya.

  10. Olahraga Scuba diving itu ternyata tidak sesederhana kelihatannya, menyelam dan menikmati pemandangam bawah air. Tetapi malah banyak sekali yang harus diperhatikan.
    Terima kasih tulisannya kak, menambah pengetahuan saya tentang olahraga menyelam ini.

  11. aku tuh pengen banget bisa ikutan diving tapi ga bisa berenang jadi mentok-mentok cuma snorkling aja heuheuhu. Sama kemaren tuh sempet ada berita yang diving dan meninggal ya, serem juga kalau ga punya bekal pengetahuan dan keterampilan yang mencukupi kalau mau diving

  12. wah banyak informasi yang didapat kak. saya sendiri belum pernah diving sih.. jadi ya belum tau teknik teknik seperti ini. ibarat kata kita mau ngendarain motor, harus ada tekniknya hihi

  13. Lengkap banget infonya ka, jadi intinya mah klo mau diving harus tau ilmu2nya juga yaa, walaupun ada juga tuh di sabang aceh yg menawarkan diving walaupun belum bisa renang dan belum tau dasar2 diving ngeri juga yaa kalo udh tau resikonya yaa walaupun tetap ada ajasih yang jagain.

  14. Seperti biasa ya, tulisannya selalu nambah wawasan baru. Baru tahu juga kalau ternyata penyelam harus menggunakan tabel dekompresi. Apapun itu, pasti ada standarisasi keamanannya ya. Thanks a lot Uni sharingnya!

  15. Dulu jaman awal2 ikutan selam suka dikasih tau bahaya2 nyelam. Abis itu rada2 gak semangat lagi. Karena takut. Hahah. Tapi sekarang2 ini jujur rada penasaran. Tapi takut juga masih ada. Hahha. Si galau..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close