AdventureCerita PerjalananTraveling

Goa Buniayu: Naruto Si Tukang Gali Sumur

Goa Buniayu: Naruto Si Tukang Gali Sumur

 April 2015, berawal dari tidak tau weekend mau kemana saya mengamini ajakan Sari ke Buniayu. “Buniayu? Itu daerah mana ya Sar, kita kesana Ngapain?” saya bertanya ke Sari. ” Kita Caving Un susur goa gitu seru deh pokoknya.” Ooo Caving belum pernah nih saya, baiklah mari di coba berbicara dengan diri sendiri.

Kali ini kami ikut open trip, jadi tidak perlu repot-repot memikirkan transportasi, akomodasi dan lainnya. Seperti biasa kami jalan jumat malam dan ketemuan di Kebon Nanas Tangerang jam 22.00 WIB. Kebon Nanas Tangerang ya, bukan di UKI. Karena teman saya Tri salah tempat nunggu di UKI pantesan sudah jam 23.00 tidak sampai – sampai padahal di WhatsApp Messenger sudah berkabar kalau doi sudah sampai dari jam 21.00 WIB jelas saja saat saya sampai di lokasi Meeting Point Si Tri tidak kelihatan batang hidungnya. Setelah debat dengan Tri melalui telepon dan sedikit emosi akhirnya Bang Jams Team Leader kami berbaik hati untuk menjemput Tri ke UKI.

Kami sampai di Buniayu jam 05.00 WIB saya melanjutkan tidur di saung sampai waktu sarapan tiba, isi ulang tenaga dulu persiapan susur goa nanti. Setelah sarapan dan alat alat sudah siap, lengkap di pakai, kami siap menyusuri goa, briefing di mulai jam 08.00 WIB, pada saat briefing di jelaskan detail dari perjalanan kami selama emapat jam di dalam perut bumi tersebut. Kami menyusuri Goa Vertikal dengan kedalaman kurang lebih 25 meter dengan panjang 3 Km, “Menarik!!”, saya berkata dalam hati.

Meyusuri Goa Vertical atau Goa Kerek

Untuk masuk kedalam goa ini wajib memakai peralatan khusus seperti wearpack, headlamp, sepatu bot, helm dan sarung tangan. Wearpack yang saya pakai waktu itu kombinasi warna orange dan biru seperti pakaian Naruto. Dari saung ke mulut Goa kita perlu berjalan beberapa meter, sesampainya di mulut goa kami diturunkan dengan tali satu per satu. Mulut goa seperti tutup botol dibagian atasnya berupa lubang, hanya dapat dimasuki satu orang saja, sehingga 15 peserta harus antri untuk memasuki goa tersebut. Kami diturunkan dengan tali pengerek yang sudah di sambungkan ke Harness yang melekat di tubuh peserta, setelah digantung bergelantungan menggunakan tali, peserta diturunkan perlahan sampai kepermukaan goa, tinggi dari mulut goa sampai dengan permukaan adalah kurang lebih sekitar dua meter. Saat sampai di permukaan goa saya takjub ternyata permukaannya cukup lebar dan saya sudah disambut dengan irama gemuruh gemericik air sungai yang mengalir di bawah tanah.

TURUN KEPERMUKAAN GOA DENGAN TALI KEREKAN / RAPPELING

Goa Kerek ini memiliki empat tingkatan kedalaman, mulai dari tingkat 1 sampai 4 semakin besar angkanya berarti semakin dalam. Kami berjalan menyusuri lorong panjang yang gelap dengan mengandalkan penerangan headlamp dan boom yang dipakai oleh guide. Boom adalah semacam lampu penerangan seperti headlamp tetapi sumber cahayanya dari api. Fungsinya adalah untuk mengetahui kadar oksigen yang ada di goa, jika tidak ada oksigen apinya tidak menyala.

Paimalala Journey Goa Buniayu -Meyusuri Goa Vertical atau Goa Kerek - Turun Goa (4)
BOOM yang saya maksud adalah yang di pakai Bapak ini.

Beberapa menit setelah semua peserta mendarat di dasar goa, kami memulai penelusuran ke lorong panjang dengan medan yang licin dan bebatuan tajam. The Journey Begins! Berada diperut bumi ini saya seperti sedang berada di film Alice in Wonderland (ngayal) menemukan hal-hal yang menakjubkan. Sepanjang mata memandang kita akan di suguhi Stalaktit dan Stalagmit yang berdiri kokoh, butiran-butiran Kalasit seperti salju yang apabila terkena cahaya bersinar indah, tetesan air yang menjadi bentuk abstrak unik dan beberapa dinding goa jika di tabuh berbunyi seperti gong. Didalam goa ini juga terdapat fauna seperti seperti laba-laba buta, jangkrik buta yang memang tidak membutuhkan cahaya untuk hidup. Sungguh besar kuasa Allah bahkan di dalam kegelapan ada keindahan.

Setelah puas memotret, selfie, dan menabuh dinding goa kami sampai ke tingkat ke empat. Di tingkat keempat ini kami beberapa kali harus menuruni medan yang cukup tinggi dan curam serta aliran air yang cukup deras setinggi pinggang orang dewasa. Jika malas untuk berjalan kaki kita bisa berenang atau body rafting, tetapi harus selalu waspada ya dan ikuti kata guide-nya, nanti malah hanyut di bawa arus ke dasar goa.

P4260547.JPG

Setelah melalui aliran air, lorong goa perlahan lahan mengering di titik ini tepat di kedalam 25 meter kami menikmati kegelapan abadi selama 6 detik, bertafakur alam merasakan bagaimana nanti jika di kebumikan, sendirian tanpa siapapun hanya amal ibadah yang menjadi penolong. Mendadak tobat ingat dosa-dosa. Si Bapak pun berkata:

“Kenalilah perut bumi sebelum kau di kebumikan”

Rintangan terakhir adalah melalui genangan lumpur yang lengket setinggi betis. Disini kita harus bekerja sama untuk saling berpegangan dan mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengangkat kaki yang sudah terkubur oleh lumpur. Di akhir penelusuran setelah melewati lumpur goa akan semakin mendaki dan pada akhir perjalanan kami melewati tangga bambu untuk sampai ke mulut goa. Hati-hati licin karena sepatu boot sudah berkubang dengan lumpur.

Sesampai di mulut goa kami sudah di sambut dengan beberapa botol air mineral, keluar dari mulut goa penampakan kami persis seperti tukang gali sumur berbalurkan lumpur. Inilah Naruto si Tukang Gali Sumur. Untuk bersih bersih kami di bawa dengan mobil pick up ke curug Bibijilan.

BEFORE AFTER

Curug Bibijilan

Curug Bibijilan hanya berada beberapa meter saja nama air terjun atau curug Bibijilan tersebut berasal dari nama lokasinya berada, yaitu kampung Bibijilan. Nama Bibijilan itu sendiri berasal dari kata biji (dalam bahasa Sunda) yang memiliki arti keluar, jadi kata Bibijilan ini artinya tempat keluar, nah dari kata tersebut Curug Bibijilan adalah air terjun yang airnya keluar dari sungai bawah tanah.

IMG-20150427-WA0192.jpg
BERSIH BERSIH DI CURUG BIBIJILAN

Membersihkan badan yang dipenuhi dengan lumpur di kawasan wisata Curug Bibijilan sambil menikmati air terjun yang dingin dan menyegarkan badan, sehingga rasa lelah dan letih pun hilang terbasuh derasnya aliran air terjun. Setelah puas main air dan kedinginan kami kembali ke saung untuk menganti pakaian, pulang ke peradaban.

Tags
Show More

Reno

Traveler, Backpacker, Animation Lover, Animal's Lovers, Pluviophile, Nyctophilia,

Related Articles

4 thoughts on “Goa Buniayu: Naruto Si Tukang Gali Sumur”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close